Selain memberi cahaya, lampion menyimpan petunjuk pada cara cahaya itu dibingkai. Dalam bahasa Mandarin, denglong (燈籠) tersusun dari deng, yang berarti cahaya atau sumber cahaya, dan long, yang berarti sangkar atau tempat. Gabungannya merujuk pada wadah bagi cahaya [1]. Dari situ, bentuk dan bahan lampion menjadi bagian dari pembacaan visualnya, bukan sekadar hiasan di sekeliling nyala.
Bahan memperlihatkan cara cahaya ditampung
Lampion umumnya dibuat dari kertas dengan lilin di dalamnya. Bentuk yang lebih rumit dapat memakai rangka bambu berlapis kertas tebal atau sutera berwarna, yang biasanya merah. Lampion seperti ini mudah rusak dan tidak bertahan lama [1]. Perbedaan bahan dan konstruksi memberi kesan visual yang berbeda: ada permukaan kertas, ada pula rangka yang membentuk wadah sebelum dilapisi.
Warna merah bisa dicatat sebagai pilihan pada bahan sutera, tetapi warna itu saja tidak cukup untuk memastikan makna simboliknya. Bentuk, pelapis, dan cara lampion digunakan memberi konteks yang lebih nyata untuk dibaca daripada menebak pesan dari warna semata.
Lentera batu menunjukkan ragam bentuk dan ruang
Riwayat lentera di Tiongkok juga mencakup bentuk yang berbeda dari lampion berbalut kertas. Lentera batu disebut muncul sekitar Dinasti Han dan ditemukan di vihara, kuil, serta kebun; lentera batu di kuil Buddha umumnya ditempatkan di depan kuil [1]. Bahan dan tempatnya memberi gambaran bahwa wadah cahaya tak selalu berupa dekorasi ringan yang digantung. Bentuknya dapat terkait dengan ruang tempat lentera itu hadir.
Motif lebih jelas ketika dibaca bersama penggunaannya
Sebuah contoh dari Semarang memperlihatkan bagaimana gambar pada lentera dapat berhubungan dengan cara kerjanya. Teng-Teng memiliki rangka berputar di bagian tengah yang ditempeli potongan kertas berbentuk kambing, naga, unta, dan lainnya. Ketika lilin dinyalakan, bayangan gambar bergerak mengelilingi sisi lentera [1]. Teng-Teng juga digunakan warga Muslim Semarang untuk pergi ke masjid, terutama saat Ramadan dan tarawih [1].
Contoh Semarang ini bukan katalog motif lampion Tionghoa. Namun, ia menunjukkan mengapa motif sebaiknya dibaca bersama bentuk, bahan, dan konteks pemakaian: gambar bisa menjadi bagian dari permainan bayangan, bukan hanya hiasan pada permukaan. Untuk memahami sebuah lampion, cahaya memang menarik perhatian lebih dulu; rangka, pelapis, dan tradisi penggunaannya membantu menjelaskan sisanya.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Lampion. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=28600411&title=Lampion (diakses 2026-10-02).